About Me
Jumat, 08 April 2011
Gatot Kaca: Mimpi Habibie yang Kandas...!!
N250 Vs ATR72-500 Gatot Kaca: Mimpi Habibie yang Kandas..!!07 April 2010 | 10:00
Oleh: Osa Kurniawan Ilham-kompasiana
Agustus 1985. Saat mendapat kesempatan berkumpul di Jakarta bersama pelajar teladan yang lain dari seluruh kabupaten dan kotamadya se Indonesia, saya mendapat oleh-oleh dari Panitia 40 Tahun Indonesia Merdeka saat itu. Yaitu sebuah buku yang berisikan tulisan-tulisan wartawan mengenai kesuksesan penerbangan perdana CN235 yang diberi nama“Tetuko” oleh Pak Harto. Tetuko adalah nama kecil dari Gatotkaca, kesatria yang bisa terbang itu. Penerbangan perdana ini begitu berkesan karena walupun masih menyandang huruf CN (berarti Casa & Nurtanio), CN235 yang diterbangkan itu sebagian besar komponennya memang sudah diproduksi dan dirakit di IPTN (atau PT Dirgantara Indonesia sekarang).
CN235 memang kemudian tercatat sebagai pesawat yang laris, entah versi sipil maupun militernya, dengan penggunanya tersebar di Malaysia, Korea Selatan, Thailand bahkan Amerika Serikat (US Coast Guard), termasuk yang digunakan di dalam negeri sendiri.
10 Agustus 1995. 10 tahun setelah penerbangan perdana CN235, mimpi Pak Habibie untuk memproduksi dan menerbangkan pesawat yang benar-benar made in Indonesia akhirnya terwujud juga. Sebuah pesawat berbaling-baling dengan teknologi fly by wire yang mendahului jamannya, diberi kode N250 dan dinamai Gatotkaca oleh Pak Harto dengan kapasitas 70-an penumpang akhirnya berhasil terbang selama 55 menit di langit kota Bandung dengan pilot penguji Erwin Danuwinata.Sebuah bukti terpampang sudah, bahwa negara miskin yang tiada dikenal itu memang mampu memproduksi pesawat yang bisa diterbangkan.
Ide membuat N250 ini didasari oleh visi Pak Habibie bahwa beberapa tahun ke depan penerbangan di Indonesia akan semakin ramai. Angkasa wilayah luas dari Sabang sampai Merauke ini suatu saat pasti akan diramaikan oleh burung-burung besi yang terbang untuk memobilisasi manusia dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Karena penerbangan akan ramai maka pasti membutuhkan pesawat dalam jumlah yang besar. Pesawat jet diprediksi akan banyak digunakan untuk menjelajah kota-kota yang diperlengkapi dengan bandara dengan landasan pacu panjang. Tetapi pesawat berbaling-baling diprediksi tetap tidak bisa dihilangkan, malah kebutuhannya akan semakin meningkat untuk melayani kota-kota yang hanya punya bandara perintis dengan landasan pacu pendek.
Berdasarkan visi inilah N250 diciptakan. Pesawat ini menggunakan mesin turboprop 2439 KW dari Allison AE 2100 C buatan perusahaan Allison, mampu terbang dengan kecepatan maksimal 610 km/jam (330 mil/jam) dan kecepatan ekonomis 555 km/jam yang merupakan kecepatan tertinggi di kelas turprop 50 penumpang. Ketinggian operasi adalah 25.000 kaki (7620 meter) dengan daya jelajah 1480 km. Karena itu cocok digunakan untuk operasional di Kalimantan maupun di Indonesia bagian timur.Saingan pesawat ini adalah ATR42-500, Fokker 50 dan Dash 8-300. Saat itu perusahaan Fokker Belanda baru saja bangkrut sehingga N250 akan kehilangan 1 kompetitornya, sebuah insting bisnis Pak Habibie yang sebenarnya oke juga. Dibandingkan dengan pesaingnya, N250 lebih canggih karena dilengkapi dengan teknologi fly by wire yang cukup baru di tahun 1990-an tersebut.
Sebagai calon insinyur yang akan lulus tahun 1996, saya cukup berharap pesawat tersebut akan melangkah ke produksi massalnya sehingga siapa tahu saya bisa ikut serta di dalamnya. Banyak teman yang akhirnya masuk bekerja di IPTN saat itu, terkadang malah menjadikan tanda tanya apakah dengan banyaknya pegawai permanen seperti itu perusahaan pelat merah ini bisa efisien menjalankan usahanya. Tanda tanya semakin besar saat alih-alih fokus pada sertifikasi N250, IPTN malah meluncurkan proyek baru untuk membuat pesawat jet N2130, sebuah blunder yang sampai sekarang masih saya sesali. Ditambah lagi dengan banyaknya isu berseliweran menyangkut in-efisiensi di tubuh IPTN termasuk pemakaian dana reboisasi sebagai suntikan dana ke perusahaan dan juga pemotongan gaji pegawai negeri yang diklaim sebagai saham N2130, saya semakin antipati dengan proyek IPTN ini.
Tahun 1997, Indonesia kolaps lalu kita masuk terjebak dalam program IMF yang salah satu isunya adalah memangkas subsidi negara ke perusahaan negara semacam IPTN. Reaksi pertama saya saat itu adalah senang, negara tidak perlu lagi mensubsidi proyek pesawat seperti ini, mendingan uangnya digunakan untuk membangun pertanian saja. Saya tidak sadar bahwa ternyata kita dijebak oleh dunia internasional yang tidak suka Indonesia menjadi pemain baru dunia kedirgantaraan itu. Terus terang, reaksi senang itu sekarang berubah menjadi ratapan.
Dalam proses sertifikasi oleh FAA, berdasarkan pembicaraan dalam beberapa blog, N250 tersandung dalam audit mengenai standarisasi produksi komponen yang digunakan dalam N250. Kalau mau disertifikasi lagi, beberapa komponen harus diganti dengan proses produksi yang terdokumentasi secara standar. Tentu saja penggantian komponen ini perlu uang, sementara subsidi negara telah terlanjur dicabut. Kalau ada karyawan atau alumni IPTN silakan mengkonfirmasi berita ini ya. Akhirnya berhentilah proyek ini sampai PT DI menemukan investor baru untuk melanjutkannya memproduksi prototipe yang siap disertifikasi secara nasional, lalu oleh badan sertifikat Eropa (JAA) dan kemudian Amerika Serikat (FAA). Ada rumor bahwa SBY menyetujui proyek ini dilanjutkan dengan asistensi dari Pak Habibie, entah rumor ini benar atau tidak karena lenyap begitu saja oleh berita mengenai Century serta Cicak vs Buaya yang lalu. Entah………………..
Tahun 2009 diberitakan secara nasional bahwa Lion Air telah memesan 20 pesawat berbaling-baling ATR72-500 dari ATR Perancis. Pesawat ATR72 berkapasitas 70 tempat duduk ini akan dioperasikan oleh Wings Air melayani Ambon, Ternate, Medan, Bandung, NTB, NTT, Kalbar dan Kaltim dengan pusat operasi di Manado. 3 pesawat sudah datang langsung dari Tolouse Perancis, akhir tahun lalu dan sisanya akan menyusul sampai tahun 2011 nanti. Sebuah insting bisnis penerbangan yang lumayan dari Lion Air dengan mengoperasikan pesawat baru seperti ini.
Ngomong-ngomong tentang ATR72-500, ini pesawat terbaru hasil pengembangan ATR42, saingan N250 seandainya bisa diproduksi massal. Saat saya menjelajah Google, saya menemukan bahwa ATR72-500 sudah banyak digunakan oleh maskapai penerbangan internasional entah di Asia Pasific, Afrika, Eropa maupun Amerika.
Ternyata benar juga mimpi, visi dan prediksi Pak Habibie 20 tahun yang lalu bahwa bisnis penerbangan akan semakin semarak dan N250 bisa menjadi salah satu pilihan dalam bisnis pesawat berbaling-baling itu. Seandainya saja saat itu N250 sudah berhasil disertifikasi, lalu seandainya saja IPTN dioperasikan dengan manajemen yang efisien dan seandainya saja tidak ada krisis moneter, maka N250 pasti sudah akan menjadi pilihan dari Lion Air dan juga maskapai-maskapai penerbangan dari negara lain. Bayangkan saja, bila Lion Air memesan 20 pesawat saja, PT DI akan bisa memelihara asap dapurnya selama 3 - 10 tahun ke depan, belum lagi bila ada pesanan dari negara lain.
Sayang, mimpi besar Pak Habibie ini kandas sudah. Kita sudah kehilangan 13 tahun penuh kesia-siaan, sementara para insinyur alumni IPTN sudah tersebar di seluruh industri dirgantara dunia. Bagi mereka, para insinyur itu, tidaklah terlalu menjadi masalah, sepanjang kompetensi mereka dihargai tinggi oleh industri pengguna otak dan ketrampilan mereka. Tapi bagi kita sebagai bangsa, lagi-lagi terbukti bahwa kita ini adalah bangsa kalah, yang tidak pernah malu mengakui bahwa sudah kehilangan harga diri dengan lawakan politik pembesar kita. Dan kita perlu paling tidak 3 generasi lagi untuk menebus kebodohan ini.
Akankah N250 bisa terbang kembali ???
Referensi dan sumber foto:
Oleh: Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 7 April 2010-kompasiana
Sumber : http://www.facebook.com/notes/suara-rakyat/gatot-kaca-mimpi-habibie-yang-kandas/10150537560220487
Selasa, 08 Maret 2011
Puisi Karya Bung Karno
Bung Karno bertafakur memandang alam bebas, mengagumi kebesaran Allah SWT untuk mendapatkan inspirasi. Salah satu hasilnya Bung Karno menuangkannya ke dalam bentuk puisi yang diberi judul Aku Melihat Indonesia. Puisi ini kemudian dipopulerkan Sitor Situmorang, Satrawan dan sekaligus sahabat Bung Karno, yang juga banyak menciptakan karya puisi. Puisi-puisi Sitor sendiri telah diterjemahkan dan dibukukan ke dalam berbagai bahasa. Di antaranya bahasa Inggris, Perancis, Belanda, China, Jepang, Italia, Rusia, dan Jerman.
Aku Melihat Indonesia
Jika aku berdiri di pantai Ngliyep
Aku mendengar lautan Indonesia bergelora
Membanting di pantai Ngeliyep itu
Aku mendengar lagu – sajak Indonesia
Jikalau aku melihat
Sawah menguning menghijau
Aku tidak melihat lagi
Batang padi menguning – menghijau
Aku melihat Indonesia
Jika aku melihat gunung-gungung
Gunung Merapi, gunung Semeru, gunung Merbabu
Gunung Tangkupan Prahu, gunung Klebet
Dan gunung-gunung yang lain
Aku melihat Indonesia
Jikalau aku mendengar pangkur palaran
Bukan lagi pangkur palaran yang kudengarkan
Aku mendengar Indonesia
Jika aku menghirup udara ini
Aku tidak lagi menghirup udara
Aku menghirup Indonesia
Jika aku melihat wajah anak-anak di desa-desa
Dengan mata yang bersinar-sinar
(berteriak) Merdeka! Merdeka!, Pak! Merdeka!
Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia!
Sabtu, 05 Maret 2011
Tanah Air Amanat Tuhan
Pidato Bung Karno 15 Februari 1964, di Masjid Baiturrahim, Jakarta.
Saudara-saudara, biasanya orang mengatakan bahwa Tuhan itu bersifat dua puluh, sifat rong puluh, dua puluh macam sifat. Wah, saya tidak mau terima itu. Tuhan kok hanya dua puluh sifatnya. Tuhan di sini dibatasi. Padahal bagi saya Tuhan itu tidak terbatas. Kata orang asing limitless, without limit, sifatnya pun without limit. Tidak hanya dua puluh, bahkan tidak hanya dua ratus. Tidak! Bagi saya Tuhan bersifat limitless.
Tidak ada batas sifat Tuhan itu. Saya tidak tahu diterima atau tidak oleh masyarakat. Nah, kata Menteri Agama, alangkah baiknya jikalau dikatakan, yang wajib diketahui sedikitnya dua puluh. Lha kalau mengetahui tiga puluh, lebih baik. Kalau mengetahui empat puluh, lebih baik. Hanya akal dan hatiku mengatakan sifat Tuhan itu limitless, tidak ada batasnya. Ada sifat Tuhan yang istimewa. Istimewa, malahan saya namakan sifat prerogatif Tuhan. Yaitu sifat rahman dan sifat rahim. Rahmaniah dan rahimiah. Selalu kita sebutkan: Arrahman arrahim; Bismillahirrahmannir-rahim. Rahman, rahim, rahman, rahim, rahman, rahim, selalu itu yang kita tonjol-tonjolkan. Tetapi di samping itu saya katakan lagi masih beratus-ratus, beribu-ribu, berpuluh-puluh ribu, beratus-ratus ribu, berjuta-juta,limitless sifat Tuhan itu.
Nah, pada waktu saya berpidato di masjid jami’, masjid agung, masjid yang terbesar di Padang, saya onceki hal ini. Kemudian di beberapa pidato saya, antara lain juga di Istana Nega ra, saya ulangi oncekan saya mengenai kerahmanan dan kerahiman Tuhan itu. Saya terangkan beda antara sifat rahmaniah dan sifat rahimiah Tuhan itu. Kalau kita melihat terjemahannya, Allah pemurah-penyayang, atau ada yang mengatakan: Allah pengasih-penyayang… Bedanya ialah bahwa sifat rahman, rahmaniah Tuhan itu, kemurahan Tuhan memberikan kepada kita barang sesuatu tanpa kita beramal baginya. Jadi sebagai pemberian gratis, ekstra gratis kepada kita, tanpa kita berbuat apa-apa. Sebaliknya rahimiah Tuhan ialah pemberian Tuhan kepada kita, sebagai kata orang Jawa, ganjaran atas amal perbuatan kita. Nah itu bedanya.
Saya di masjid Padang itu menceritakan, sesudah kita sembilan bulan sepuluh hari di dalam gua garba ibu, procot lahir, terus kita dilimpahi dengan rahman Tuhan, rahmaniah Tuhan. Kita belum beramal apa-apa, tahu-tahu sudah diberi oleh Tuhan beberapa hal yang memungkinkan kita hidup dan kita mendapat nikmat dari hidup kita itu. Misalnya kita diberi tanah air oleh Tuhan. Kita di-procot-kan dari gua garba ibu, tidak di dasar laut, atau tidak di awang-awang. Tidak! Kita dilahirkan dalam suatu keadaan yang di situ ada buminya, yang kita bisa hidup di atasnya, yang di situ ada air yang kita bisa minum daripadanya, yang di situ ada hawa udaranya yang kita bisa hirup. Pendek kata dengan satu perkataan: tanah air. Itulah salah satu kerahmanan Tuhan kepada kita. Di samping sifat rahmaniah Tuhan ini, Tuhan mempunyai sifat pula rahimiah, yaitu memberi ganyaran kepada kita atas amal-amal kita. Kalau kita berbuat baik, ini ganjarannya.
Nah, Saudara-saudara, Tuhan mempunyai satu kesenangan -- kalau saya boleh mengatakan bahwa Tuhan itu mempunyai kesenangan -- kesenangan Tuhan yaitu menjalankan sifat-Nya, sifat rahmaniah-Nya, sifat rahimiah-Nya. Tuhan amat senang sekali menjalankan sifat rahmaniah-Nya dan sifat rahimiah-Nya. Karena itulah Tuhan lantas mengadakan agama. “Hai manusia, hai manusia, yang duduk di sini, yang duduk di sana, yang laki, yang wanita, hai manusia, aku beri agama kepadamu agar supaya engkau dalam menjalankan agama itu, menjalankan amar-makruf nahi-munkar, engkau menyenangkan kepada-Ku.” Jadi kita ini dihidupkan oleh Tuhan, digubrakkeun, kata orang Sunda, di alam semesta ini untuk membuat senang Tuhan. “Aku mengadakanmu agar supaya kau menyembah kepada-Ku.”
Kita berkewajiban membuat senang kepada Tuhan. Kita berkewajiban untuk tidak membuat murka-Nya. Kita berke wajiban untuk menjalankan amar makruf nahi munkar, agar Tuhan bisa menjalankan rahmaniah-Nya dan rahimiah-Nya. Antara lain terhadap tanah air dan masyarakat ini. Tuhan meng-gubrakkeun kita di dunia ini, sebagai kukatakan tadi, zonder kita beramal apa-apa sudah kita diberi tanah air, diberi tanah yang cantik ini, diberi air yang segar ini, diberi udara yang segar ini, diberi masyarakat yang kita hidup di antaranya. Ini pun satu rahmaniah Tuhan. Kita dilahirkan bukan di dalam gua, kita digubrakkeun bukan di dasar lautan. Tidak! Kita digubrakkeun di Indonesia dengan pulau-pulaunya yang cantik molek, dengan natur, alamnya yang begini segar.
Kita tidak dilahirkan di kalangan masyarakat semut atau bebek atau angsa. Tidak! Kita digubrakkeun di kalangan masyarakat ma nusia. Oleh karena itulah maka saya selalu berkata bahwa tanah air dan masyarakat ini adalah amanat Tuhan kepada kita. “Hai manusia, Aku gubrakkeun engkau di atas bumi tanah air ini. Aku gubrakkeun engkau di antara masyarakat ini. Inilah amanah-Ku: tanah air yang aku berikan kepadamu masyarakat manusia yang di antaranya Aku gubrakkeun. Amanah ini engkau harus pelihara, tanah air ini harus engkau pelihara baik-baik, masyarakat ini eng kau harus pelihara baik-baik, sehingga kita merasa sebagai satu kewajiban untuk memelihara tanah air ini, untuk memelihara ma syarakat ini. Oleh karena itu saya, di dalam pidato-pidato saya, selalu saya tekankan bekerjalah, berjuanglah untuk tanah air ini, bekerjalah dan berjuanglah untuk masyarakat ini.
Merah Putih
Bila kita melihat deretan bendera yang dikibarkan dari berpuluh-puluh bangsa di atas tiang, maka terlintas di hati kita bahwa masing-masing warna atau gambar yang terdapat di dalamnya mengandung arti, nilai, dan kepribadian sendiri-sendiri, sesuai dengan riwayat bangsa masing-masing.
Demikian pula dengan bendera merah putih bagi Bangsa Indonesia. Warna merah dan putih mempunyai arti yang sangat dalam, sebab kedua warna tersebut tidak begitu saja dipilih dengan cuma–cuma, melainkan melalui proses sejarah yang begitu panjang dalam perkembangan Bangsa Indonesia.
1. Menurut sejarah, Bangsa Indonesia memasuki wilayah Nusantara ketika terjadi perpindahan orang-orang Austronesia sekitar 6000 tahun yang lalu datang ke Indonesia Timur dan Barat melalui tanah Semenanjung dan Philipina. Pada zaman itu manusia memiliki cara penghormatan atau pemujaan terhadap matahari dan bulan. Matahari dianggap sebagai lambang warna merah dan bulan sebagai lambang warna putih. Zaman itu disebut juga zaman Aditya Candra. Aditya berarti matahari dan Candra berarti bulan. Penghormatan dan pemujaan tidak saja di kawasan Nusantara, namun juga di seluruh Kepulauan Austronesia, di Samudra Hindia, dan Pasifik.
Sekitar 4000 tahun yang lalu terjadi perpindahan kedua, yaitu masuknya orang Indonesia kuno dari Asia Tenggara dan kemudian berbaur dengan pendatang yang terlebih dahulu masuk ke Nusantara. Perpaduan dan pembauran inilah yang kemudian melahirkan turunan yang sekarang kita kenal sebagai Bangsa Indonesia.
Pada Zaman itu ada kepercayaan yang memuliakan zat hidup atau zat kesaktian bagi setiap makhluk hidup yaitu getah-getih. Getah-getih yang menjiwai segala apa yang hidup sebagai sumbernya berwarna merah dan putih. Getah tumbuh-tumbuhan berwarna putih dan getih (dalam Bahasa Jawa/Sunda) berarti darah berwarna merah, yaitu zat yang memberikan hidup bagi tumbuh-tumbuhan, manusia, dan hewan. Demikian kepercayaan yang terdapat di Kepulauan Austronesia dan Asia Tenggara.
2. Pada permulaan masehi selama 2 abad, rakyat di Kepulauan Nusantara mempunyai kepandaian membuat ukiran dan pahatan dari kayu, batu, dan lainnya, yang kemudian ditambah dengan kepandaian mendapat pengaruh dari kebudayaan Dong Song dalam membuat alat-alat dari logam terutama dari perunggu dan besi. Salah satu hasil yang terkenal ialah pembuatan gendering besar dari perunggu yang disebut nekara dan tersebar hampir di seluruh Nusantara. Di Pulau Bali gendering ini disebut Nekara Bulan Pajeng yang disimpan dalam pura. Pada nekara tersebut diantaranya terdapat lukisan orang menari dengan hiasan bendera dan umbul-umbul dari bulu burung. Demikian juga di Gunung Kidul sebelah selatan Yogyakarta terdapat kuburan berupa waruga dengan lukisan bendera merah putih berkibar di belakang seorang perwira menunggang kerbau, seperti yang terdapat di kaki Gunung Dompu.
Sejak kapan bangsa-bangsa di dunia mulai memakai bendera sebagai identitas bangsanya? Berdasarkan catatan sejarah dapat dikemukakan bahwa awal mula orang menggunakan bendera dimulai dengan memakai lencana atau emblem, kemudian berkembang menjadi tanda untuk kelompok atau satuan dalam bentuk kulit atau kain yang dapat berkibar dan mudah dilihat dari jauh. Berdasarkan penelitian akan hasil-hasil benda kuno ada petunjuk bahwa Bangsa Mesir telah menggunakan bendera pada kapal-kapalnya, yaitu sebagai batas dari satu wilayah yang telah dikuasainya dan dicatat dalam daftar. Demikian juga Bangsa Cina di zaman kaisar Chou tahun 1122 sebelum masehi.
Bendera itu terikat pada tongkat dan bagian puncaknya terdapat ukiran atau totem, di bawah totem inilah diikatkan sepotong kain yang merupakan dekorasi. Bentuk semacam itu didapati pada kebudayaan kuno yang terdapat di sekitar Laut Tengah. Hal itu diperkuat juga dengan adanya istilah bendera yang terdapat dalam kitab Injil. Bendera bagi raja tampak sangat jelas, sebab pada puncak tiang terdapat sebuah symbol dari kekuasaan dan penguasaan suatu wilayah taklukannya. Ukiran totem yang terdapat pada puncak atau tiang mempunyai arti magis yang ada hubungnnya dengan dewa-dewa. Sifat pokok bendera terbawa hingga sekarang ini.
Pada abad XIX tentara napoleon I dan II juga menggunakan bendera dengan memakai lambang garuda di puncak tiang. Perlu diingat bahwa tidak semua bendera mempunyai arti dan ada hubungannya dengan religi. Bangsa Punisia dan Yunani menggunakan bendera sangat sederhana yaitu untuk kepentingan perang atau menunjukkan kehadiran raja atau opsir, dan juga pejabat tinggi negara. Bendera Yunani umumnya terdiri dari sebuah tiang dengan kayu salib atau lintang yang pada puncaknya terdapat bulatan. Dikenal juga perkataan vaxillum (kain segi empat yang pinggirnya berwarna ungu, merah, atau biru) digantung pada kayu silang di atas tombak atau lembing.
Ada lagi yang dinamakan labarum yang merupakan kain sutra bersulam benang emas dan biasanya khusus dipakai untuk Raja Bangsa Inggris menggunakan bendera sejak abad VIII. Sampai abad pertengahan terdapat bendera yang menarik perhatian yaitu bendera “gunfano” yang dipakai Bangsa Germania, terdiri dari kain bergambar lencana pada ujung tombak, dan dari sinilah lahir bendera Prancis yang bernama “fonfano”.
Bangsa Viking hampir sama dengan itu, tetapi bergambar naga atau burung, dikibarkan sebagai tanda menang atau kalah dalam suatu pertempuran yang sedang berlangsung. Mengenai lambang-lambang yang menyertai bendera banyak juga corak ragamnya, seperti Bangsa Rumania pernah memakai lambang burung dari logam, dan Jerman kemudian memakai lambang burung garuda, sementara Jerman memakai bendera yang bersulam gambar ular naga.
Tata cara pengibaran dan pemasangan bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung, kibaran bendera putih sebagai tanda menyerah (dalam peperangan) dan sebagai tanda damai rupanya pada saat itu sudah dikenal dan etika ini sampai sekarang masih digunakan oleh beberapa Negara di dunia.
3. Pada abad VII di Nusantara ini terdapat beberapa kerajaan. Di Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan pulau-pulau lainnya yang pada hakikatnya baru merupakan kerajaan dengan kekuasaan terbatas, satu sama lainnya belum mempunyai kesatuan wilayah. Baru pada abad VIII terdapat kerajaan yang wilayahnya meliputi seluruh Nusantara yaitu Kerajaan Sriwijaya yang berlangsung sampai abad XII. Salah satu peninggalannya adalah Candi Borobudur , dibangun pada tahun 824 Masehi dan pada salah satu dindingnya terdapat “pataka” di atas lukisan dengan tiga orang pengawal membawa bendera merah putih sedang berkibar. Kata dwaja atau pataka sangat lazim digunakan dalam kitab jawa kuno atau kitab Ramayana. Gambar pataka yang terdapat pada Candi Borobuur, oleh seorang pelukis berkebangsaan Jerman dilukiskan dengan warna merah putih. Pada Candi Prambanan di Jawa Tengah juga terdapat lukisan Hanoman terbakar ekornya yang melambangkan warna merah (api) dan warna putih pada bulu badannya. Hanoman = kera berbulu putih. Hal tersebut sebagai peninggalan sejarah di abad X yang telah mengenal warna merah dan putih.
Prabu Erlangga, digambarkan sedang mengendarai burung besar, yaitu Burung Garuda yang juga dikenal sebagau burung merah putih. Denikian juga pada tahun 898 sampai 910 Raja Balitung yang berkuasa untuk pertama kalinya menyebut dirinya sebagai gelar Garuda Muka, maka sejak masa itu warna merah putih maupun lambang Garuda telah mendapat tempat di hati Rakyat Indonesia.
4. Kerajaan Singosari berdiri pada tahun 1222 sampai 1292 setelah Kerajaan Kediri, mengalami kemunduran. Raja Jayakatwang dari Kediri saat melakukan pemberontakan melawan Kerajaan Singosari di bawah tampuk kekuasaan Raja Kertanegara sudah menggunakan bendera merah – putih , tepatnya sekitar tahun 1292. Pada saat itu tentara Singosari sedang dikirim ke Semenanjung Melayu atau Pamelayu. Jayakatwang mengatur siasat mengirimkan tentaranya dengan mengibarkan panji – panji berwarna merah putih dan gamelan kearah selatan Gunung Kawi. Pasukan inilah yang kemudian berhadapan dengan Pasukan Singosari, padahal pasukan Singosari yang terbaik dipusatkan untuk menghadang musuh di sekitar Gunung Penanggungan. Kejadian tersebut ditulis dalam suatu piagam yang lebih dikenal dengan nama Piagam Butak. Butak adalah nama gunung tempat ditemukannya piagam tersebut terletak di sebelah selatan Kota Mojokerto. Pasukan Singosari dipimpin oleh R. Wijaya dan Ardaraja (anak Jayakatwang dan menantu Kertanegara). R. Wijaya memperoleh hadiah sebidang tanah di Desa Tarik, 12 km sebelah timur Mojokerto. Berkibarlah warna merah – putih sebagai bendera pada tahun 1292 dalam Piagam Butak yang kemudian dikenal dengan piagam merah – putih, namun masih terdapat salinannya. Pada buku Paraton ditulis tentang Runtuhnya Singosari serta mulai dibukanya Kerajaan Majapahit dan pada zaman itu pula terjadinya perpaduan antara Ciwaisme dengan Budhisme.
5. Demikian perkembangan selanjutnya pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, menunjukkan bahwa putri Dara Jingga dan Dara Perak yang dibawa oleh tentara Pamelayu juga mangandung unsur warna merah dan putih (jingga=merah, dan perak=putih). Tempat raja Hayam Wuruk bersemayam, pada waktu itu keratonnya juga disebut sebagai keraton merah – putih, sebab tembok yang melingkari kerajaan itu terdiri dari batu bata merah dan lantainya diplester warna putih. Empu Prapanca pengarang buku Negarakertagama menceritakan tentang digunakannya warna merah – putih pada upacara kebesaran Raja Hayam Wuruk. Kereta pembesar – pembesar yang menghadiri pesta, banyak dihiasi merah – putih, seperti yang dikendarai oleh Putri raja Lasem. Kereta putri Daha digambari buah maja warna merah dengan dasar putih, maka dapat disimpulkan bahwa zaman Majapahit warna merah – putih sudah merupakan warna yang dianggap mulia dan diagungkan. Salah satu peninggalan Majapahit adalah cincin warna merah putih yang menurut ceritanya sabagai penghubung antara Majapahit dengan Mataram sebagai kelanjutan. Dalam Keraton Solo terdapat panji – panji peninggalan Kyai Ageng Tarub turunan Raja Brawijaya yaitu Raja Majapahit terakhir. Panji – panji tersebut berdasar kain putih dan bertuliskan arab jawa yang digaris atasnya warna merah. Hasil penelitian panitia kepujanggaan Yogyakarta berkesimpulan antara lain nama bendera itu adalah Gula Kelapa . dilihat dari warna merah dan putih. Gula warna merah artinya berani, dan kelapa warna putih artinya suci.
6. Di Sumatra Barat menurut sebuah tambo yang telah turun temurun hingga sekarang ini masih sering dikibarkan bendera dengan tiga warna, yaitu hitam mewakili golongan penghulu atau penjaga adat, kuning mewakili golongan alim ulama, sedangkan merah mewakili golongan hulu baling. Ketiga warna itu sebenarnya merupakan peninggalan Kerajaan Minang pada abad XIV yaitu Raja Adityawarman. Juga di Sulawesi di daerah Bone dan Sopeng dahulu dikenal Woromporang yang berwarna putih disertai dua umbul – umbul di kiri dan kanannya. Bendera tersebut tidak hanya berkibar di daratan, tetapi juga di samudera , di atas tiang armada Bugis yang terkenal. Bagi masyarakat Batak terdapat kebudayaan memakai ulos semacam kain yang khusus ditenun dengan motif tersendiri. Nenek moyang orang Batak menganggap ulos sebgai lambang yang akan mendatangkan kesejahteraan jasmani dan rohani serta membawa arti khusus bagi yang menggunakannya. Dalam aliran animisme Batak dikenal dengan kepercayaan monotheisme yang bersifat primitive, bahwa kosmos merupakan kesatuan tritunggal, yaitu benua atas dilambangkan dengan warna merah dan benua bawah dilambangkan dengan warna hitam. Warna warna ketiga itu banyak kita jumpai pada barang-barang yang suci atau pada hiasan-hiasan rumah adat. Demikian pula pada ulos terdapat warna dasar yang tiga tadi yaitu hitam sebagai warna dasar sedangkan merah dan putihnya sebagai motif atau hiasannya. Di beberapa daerah di Nusantara ini terdapat kebiasaan yang hampir sama yaitu kebiasaan memakai selendang sebagai pelengkap pakaian kaum wanita. Ada kalanya pemakaian selendang itu ditentukan pemakaiannya pada setiap ada upacara – upacara, dan sebagian besar dari moti-motifnya berwarna merah dan putih.
7. Ketika terjadi perang Diponegoro pada tahun 1825-1830 di tengah – tengah pasukan Diponegoro yang beribu – ribu juga terlihat kibaran bendera merah – putih, demikian juga di lereng – lereng gunung dan desa - desa yang dikuasai Pangeran Diponegoro banyak terlihat kibaran bendera merah - putih. Ibarat gelombang samudera yang tak kunjung reda perjuangan Rakyat Indonesia sejak zaman Sriwijaya, Majapahit, putra – putra Indonesia yang dipimpin Sultan Agung dari Mataram, Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten, Sultan Hasanudin, Sisingamangaraja, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Pangeran Antasari, Pattimura, Diponegoro dan banyak lagi putra Indonesia yang berjuang untuk mempertahankan kedaulatan bangsa, sekalipun pihak penjajah dan kekuatan asing lainnya berusaha menindasnya, namun semangat kebangsaan tidak terpadamkan.
Pada abad XX perjuangan Bangsa Indonesia makin terarah dan menyadari akan adanya persatuan dan kesatuan perjuangan menentang kekuatan asing, kesadaran berbangsa dan bernegara mulai menyatu dengan timbulnya gerakan kebangsaan Budi Utomo pada 1908 sebagai salah satu tonggak sejarah.
Kemudian pada tahun 1922 di Yogyakarta berdiri sebuah perguruan nasional Taman Siswa dibawah pimpinan Suwardi Suryaningrat. Perguruan itu telah mengibarkan bendera merah putih dengan latar dasar warna hijau yang tercantum dalam salah satu lagu antara lain : Dari Barat Sampai ke Timur, Pulau-pulau Indonesia, Nama Kamu Sangatlah Mashur Dilingkungi Merah-putih. Itulah makna bendera yang dikibarkan Perguruan Taman Siswa.
Ketika terjadi perang di Aceh, pejuang – pejuang Aceh telah menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Quran.
Para mahasiswa yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia yang berada di Negeri Belanda pada 1922 juga telah mengibarkan bendera merah – putih yang di tengahnya bergambar kepala kerbau, pada kulit buku yang berjudul Indonesia Merdeka. Buku ini membawa pengaruh bangkitnya semangat kebangsaan untuk mencapai Indonesia Merdeka.
Demikian seterusnya pada tahun 1927 berdiri Partai Nasional Indonesia dibawah pimpinan Ir. Soekarno yang bertujuan mencapai kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia. Partai tersebut mengibarkan bendera merah putih yang di tengahnya bergambar banteng.
Kongres Pemuda pada tahun 1928 merupakan detik yang sangat bersejarah dengan lahirnya “Sumpah Pemuda”. Satu keputusan sejarah yang sangat berani dan tepat, karena kekuatan penjajah pada waktu itu selalu menindas segala kegiatan yang bersifat kebangsaan. Sumpah Pemuda tersebut adalah tidak lain merupakan tekad untuk bersatu, karena persatuan Indonesia merupakan pendorong ke arah tercapainya kemerdekaan. Semangat persatuan tergambar jelas dalam “Poetoesan Congres Pemoeda – Pemoeda Indonesia” yang berbunyi :
Pertama : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE
BERTOEMPAH DARAH YANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE
BERBANGSA YANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA
MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA
INDONESIA
Pada kongres tersebut untuk pertama kalinya digunakan hiasan merah – putih tanpa gambar atau tulisan, sebagai warna bendera kebangsaan dan untuk pertama kalinya pula diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Pada saat kongres pemuda berlangsung, suasana merah – putih telah berkibar di dada peserta, yang dibuktikan dengan panitia kongres mengenakan “kokarde” (semacam tanda panitia) dengan warna merah putih yang dipasang di dada kiri. Demikian juga pada anggota padvinder atau pandu yang ikut aktif dalam kongres menggunakan dasi berwarna merah – putih. Kegiatan pandu, suatu organisasi kepanduan yang bersifat nasional dan menunjukkan identitas kebangsaan dengan menggunakan dasi dan bendera merah – putih.
Perlu disadari bahwa Polisi Belanda (PID) termasuk Van der Plass tokohnya sangat ketat memperhatikan gerak – gerik peserta kongres, sehingga panitia sangat berhati-hati serta membatasi diri demi kelangsungan kongres. Suasana merah putih yang dibuat para pandu menyebabkan pemerintah penjajah melarang dilangsungkannya pawai pandu, khawatir pawai bisa berubah menjadi semacam penggalangan kekuatan massa.
Pengibaran Bendera Merah-putih dan lagu kebangsaan Indonesia Raya dilarang pada masa pendudukan Jepang, karena ia mengetahui pasti bahwa hal tersebut dapat membangkitkan semangat kebangsaan yang nantinya menuju pada kemerdekaan. Kemudian pada tahun 1944 lagu Indonesia Raya dan Bendera Merah-putih diizinkan untuk berkibar lagi setelah kedudukan Jepang terdesak. Bahkan pada waktu itu pula dibentuk panitia yang bertugas menyelidiki lagu kebangsaan serta arti dan ukuran bendera merah-putih.
Detik-detik yang sangat bersejarah adalah lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Setelah pembacaan teks proklamasi, baru dikibarkan bendera merah-putih, yang kemudian disahkan pada 18 Agustus 1945. Bendera yang dikibarkan tersebut kemudian ditetapkan dengan nama Sang Saka Merah Putih.
Kemudian pada 29 September 1950 berkibarlah Sang Merah Putih di depan Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan Bangsa Indonesia oleh badan dunia.
Bendera merah-putih mempunyai persamaan dengan bendera Kerajaan Monako, yaitu sebuah Negara kecil di bagian selatan Prancis, tapi masih ada perbedaannya. Bendera Kerajaan Monako di bagian tengah terdapat lambang kerajaan dan ukurannya dengan perbandingan 2,5 : 3, sedangkan bendera merah putih dengan perbandingan 2 : 3 (lebar 2 meter, panjang 3 meter) sesuai Peraturan Pemerintah No. 40 tahun 1958. Kerajaan Monako menggunakan bendera bukan sebagai lambang tertinggi karena merupakan sebuah kerajaan, sedangkan bagi Indonesia bendera merah putih merupakan lambang tertinggi.
The Hidden Oasis
Kisah Petualangan Menemukan Misteri Arkeologi yang Terpendam
Mesir, 2153 SM. Membawa benda misterius yang terbalut kain, delapan puluh pendeta berpenutup kepala menuju Gurun Barat—bersama rombongan mereka turut pula seorang tukang jagal. Empat minggu kemudian, setelah tiba di tempat tujuan, si tukang jagal dengan tenang menggorok satu per satu leher para pendeta, hingga tersisa satu orang yang kemudian memotong sendiri pergelangan tangannya sebelum akhirnya dia juga tewas…
Albania, 1986. Sebuah pesawat lepas landas menuju Sudan dari lapangan terbang kecil dekat fasilitas penelitian nuklir Mtskheta yang bekalangan dinonaktifkan. Di bagasi pesawat terdapat muatan yang akan mengubah Timur Tengah selamanya. Di suatu tempat di atas Gurun Sahara, pesawat itu raib entah ke mana…
Gurun Barat, masa kini. Sekelompok orang Badui menemukan mayat mumi setengah terkubur di gundukan pasir. Bersama mumi itu, terkubur pula rol film kamera dan obelisk mini dari tanah liat bertuliskan tanda hieroglif yang aneh...
Tiga peristiwa ini sepertinya tak saling terkait. Begitulah tampaknya, hingga Freya Hannen (32 tahun) tiba di Mesir untuk pemakaman kakaknya, seorang penjelajah padang pasir, yang mengakhiri hidupnya secara misterius. Selain Freya, hanya dua orang non-Mesir yang hadir dalam pemakaman: Flin “Profesor Flinders” Brodie, ahli ihwal Mesir pra-dinasti; dan Molly Kiernan, pekerja Amerika di PBB. Bagi Freya, ini awal petualangan hidup-mati yang amat mengerikan, yang akan membawa dirinya dan sang Egyptologis Flin Brodie jauh ke tempat pembuangan terlarang di Sahara. Tujuan mereka: menemukan salah satu misteri arkeologi terbesar yang menakjubkan di jantung kawasan itu.
* * *
“Novel ini sangat mengesankan: kekayaan dunia yang dia ciptakan serta keaslian karakternya membius Anda tanpa ampun, dan sebelum sadar Anda sudah berada dalam cengkeraman plotnya yang dibangun secara cermat…. Bacaan yang menyenangkan!” —Raymond Khoury, penulis The Last Templar
“Sangat menarik. Novel petualangan beroktana tinggi yang sangat halus dalam menautkan masa lalu dan masa kini untuk mengungkap misteri paling abadi Mesir kuno. Pengetahuan penulis yang luas perihal Mesir pra-sejarah terjalin indah dalam cerita yang beralur cepat dan hebat.” —James Becker, penulis The Moses Stone
“Karakter yang tepercaya, sejarah yang memikat, dan setting tempat yang memukau—terutama Kairo dan jantung Sahara yang panas. Adegan aksinya sungguh mendebarkan… dan yang paling menarik tentulah rahasia mengerikan di jantung cerita.” —Michael Cordy, penulis The Messiah Code
“The Hidden Oasis membangkitkan mitos purba yang sudah lenyap bahwa laki-laki telah berusaha sejak fajar sejarah—terbalik: saat ini, sang pencari adalah perempuan pendaki gunung! Di tengah aksi tiada henti—dan situasi yang sungguh menegangkan—Paul Sussman meyakinkan kita bahwa cerita ihwal dunia arkeologi yang hilang sungguh menyenangkan.” —Katherine Neville, penulis The Fire
“Karya sastra yang langka: thriller yang indah, cerdas, dan menarik. Anda akan menikmati setiap halaman dalam bacaan yang sangat mendebarkan ini—dan misteri di jantung ceritanya akan membuat ubun-ubun Anda berdenyut kencang.”—William Bernhardt, penulis Capitol Offense
* * *
Paul Sussman seorang jurnalis lepas. Tulisannya tersebar di berbagai media massa ternama, antara lain Big Issue, Daily Telegraph, Daily Express, Evening Standard, Independent, dan Sunday Herald. Pada 1997, namanya tercatat sebagai nominator kolomnis Inggris terbaik versi Periodical Publishers Association.
Minat Sussman pada arkeologi Mesir muncul setelah ia meraih gelar sarjana bidang sejarah dari Cambridge University. Pada 1998, ia bergabung dengan Amarna Royal Tombs Project, ekspedisi pertama yang mendapat izin untuk menggali tanah baru di Lembah Para Raja sejak Tutankhamun ditemukan pada 1922. Dalam proyek ini, ia bekerja selama empat musim sebagai arkeolog lapangan dan pencatat buku harian: semasa itu, ia memimpin penggalian ulang Makam Emas (KV56) yang diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Ratu Nefertiti.
Sussman selalu tertarik pada—dan terpesona oleh—kawasan gurun, khususnya legenda tentang oasis Zerzura yang hilang: bagai surga palem yang rimbun dan mata air yang meluap, Zerzura konon terletak di suatu kawasan di tempat pembuangan yang panas di Gurun Libya. Ia menghabiskan masa tiga minggu di Oasis Dakhla selama riset untuk novel ini.
Judul : THE HIDDEN OASIS
Penulis : Paul Sussman
Penerjemah : Ratih Ramelan
Editor : Indradya Susanto Putra
Genre : Fiksi
Cetakan : I, Oktober 2010
Ukuran : 13 x 20 cm (plus flap 8 cm)
Tebal : 636 halaman
ISBN : 978-979-3064-89-5
Harga : Rp 99.500,-
THE HIDDEN OASIS
Petualangan Mendebarkan Mengungkap Misteri Terbesar Mesir Kuno
PAUL SUSSMAN
Penulis Bestseller The Last Secret of the Temple
Langganan:
Postingan (Atom)

