About Me

Sabtu, 05 Maret 2011

Tanah Air Amanat Tuhan

Pidato Bung Karno 15 Februari 1964, di Masjid Baiturrahim, Jakarta.
Saudara-saudara, biasanya orang mengatakan bahwa Tuhan itu bersifat dua puluh, sifat rong puluh, dua puluh macam sifat. Wah, saya tidak mau terima itu. Tuhan kok hanya dua puluh sifatnya. Tuhan di sini dibatasi. Padahal bagi saya Tuhan itu tidak terbatas. Kata orang asing limitless, without limit, sifatnya pun without limit. Tidak hanya dua puluh, bahkan tidak hanya dua ratus. Tidak! Bagi saya Tuhan bersifat limitless.
Tidak ada batas sifat Tuhan itu. Saya tidak tahu diterima atau tidak oleh masyarakat. Nah, kata Menteri Agama, alangkah baiknya jikalau dikatakan, yang wajib diketahui sedikitnya dua puluh. Lha kalau mengetahui tiga puluh, lebih baik. Kalau mengetahui empat puluh, lebih baik. Hanya akal dan hatiku mengatakan sifat Tuhan itu limitless, tidak ada batasnya. Ada sifat Tuhan yang istimewa. Istimewa, malahan saya namakan sifat prerogatif Tuhan. Yaitu sifat rahman dan sifat rahim. Rahmaniah dan rahimiah. Selalu kita sebutkan: Arrahman arrahim; Bismillahirrahmannir-rahim. Rahman, rahim, rahman, rahim, rahman, rahim, selalu itu yang kita tonjol-tonjolkan. Tetapi di samping itu saya katakan lagi masih beratus-ratus, beribu-ribu, berpuluh-puluh ribu, beratus-ratus ribu, berjuta-juta,limitless sifat Tuhan itu.

Nah, pada waktu saya berpidato di masjid jami’, masjid agung, masjid yang terbesar di Padang, saya onceki hal ini. Kemudian di beberapa pidato saya, antara lain juga di Istana Nega ra, saya ulangi oncekan saya mengenai kerahmanan dan kerahiman Tuhan itu. Saya terangkan beda antara sifat rahmaniah dan sifat rahimiah Tuhan itu. Kalau kita melihat terjemahannya, Allah pemurah-penyayang, atau ada yang mengatakan: Allah pengasih-penyayang… Bedanya ialah bahwa sifat rahman, rahmaniah Tuhan itu, kemurahan Tuhan memberikan kepada kita barang sesuatu tanpa kita beramal baginya. Jadi sebagai  pemberian gratis, ekstra gratis kepada kita, tanpa kita berbuat apa-apa. Sebaliknya rahimiah Tuhan ialah pemberian Tuhan kepada kita, sebagai kata orang Jawa, ganjaran atas amal perbuatan kita. Nah itu bedanya.
Saya di masjid Padang itu menceritakan, sesudah kita sembilan bulan sepuluh hari di dalam gua garba ibu, procot lahir, terus kita dilimpahi dengan rahman Tuhan, rahmaniah Tuhan. Kita belum beramal apa-apa, tahu-tahu sudah diberi oleh Tuhan beberapa hal yang memungkinkan kita hidup dan kita mendapat nikmat dari hidup kita itu. Misalnya kita diberi tanah air oleh Tuhan. Kita di-procot-kan dari gua garba ibu, tidak di dasar laut, atau tidak di awang-awang. Tidak! Kita dilahirkan dalam suatu keadaan yang di situ ada buminya, yang kita bisa hidup di atasnya, yang di situ ada air yang kita bisa minum daripadanya, yang di situ ada hawa udaranya yang kita bisa hirup. Pendek kata dengan satu perkataan: tanah air. Itulah salah satu kerahmanan Tuhan kepada kita. Di samping sifat rahmaniah Tuhan ini, Tuhan mempunyai sifat pula rahimiah, yaitu memberi ganyaran kepada kita atas amal-amal kita. Kalau kita berbuat baik, ini ganjarannya.
Nah, Saudara-saudara, Tuhan mempunyai satu kesenangan -- kalau saya boleh mengatakan bahwa Tuhan itu mempunyai kesenangan -- kesenangan Tuhan yaitu menjalankan sifat-Nya, sifat rahmaniah-Nya, sifat rahimiah-Nya. Tuhan amat senang sekali menjalankan sifat rahmaniah-Nya dan sifat rahimiah-Nya. Karena itulah Tuhan lantas mengadakan agama. “Hai manusia, hai manusia, yang duduk di sini, yang duduk di sana, yang laki, yang wanita, hai manusia, aku beri agama kepadamu agar supaya engkau dalam menjalankan agama itu, menjalankan amar-makruf nahi-munkar, engkau menyenangkan kepada-Ku.” Jadi kita ini dihidupkan oleh Tuhan, digubrakkeun, kata orang Sunda, di alam semesta ini untuk membuat senang Tuhan. “Aku mengadakanmu agar supaya kau menyembah kepada-Ku.”
Kita berkewajiban membuat senang kepada Tuhan. Kita berkewajiban untuk tidak membuat murka-Nya. Kita berke wajiban untuk menjalankan amar makruf nahi munkar, agar Tuhan bisa menjalankan rahmaniah-Nya dan rahimiah-Nya. Antara lain terhadap tanah air dan masyarakat ini. Tuhan meng-gubrakkeun kita di dunia ini, sebagai kukatakan tadi, zonder kita beramal apa-apa sudah kita diberi tanah air, diberi tanah yang cantik ini, diberi air yang segar ini, diberi udara yang segar ini, diberi masyarakat yang kita hidup di antaranya. Ini pun satu rahmaniah Tuhan. Kita dilahirkan bukan di dalam gua, kita digubrakkeun  bukan di dasar lautan. Tidak! Kita digubrakkeun di Indonesia dengan pulau-pulaunya yang cantik molek, dengan natur, alamnya yang begini segar.
Kita tidak dilahirkan di kalangan masyarakat semut atau bebek atau angsa. Tidak! Kita digubrakkeun di kalangan masyarakat ma nusia. Oleh karena itulah maka saya selalu berkata bahwa tanah air dan masyarakat ini adalah amanat Tuhan kepada kita. “Hai manusia, Aku gubrakkeun engkau di atas bumi tanah air ini. Aku gubrakkeun engkau di antara masyarakat ini. Inilah amanah-Ku: tanah air yang aku berikan kepadamu masyarakat manusia yang di antaranya Aku gubrakkeun. Amanah ini engkau harus pelihara, tanah air ini harus engkau pelihara baik-baik, masyarakat ini eng kau harus pelihara baik-baik, sehingga kita merasa sebagai satu kewajiban untuk memelihara tanah air ini, untuk memelihara ma syarakat ini. Oleh karena itu saya, di dalam pidato-pidato saya, selalu saya tekankan bekerjalah, berjuanglah untuk tanah air ini, bekerjalah dan berjuanglah untuk masyarakat ini.




0 komentar:

Posting Komentar

Followers